Saat semua orang
sedang berinteraksi dengan orang lainnya
Sejenak aku duduk
sendiri diam,
Di hadapan laptop
hitam kesayanganku,
Bersama dengan alat
elektronik putih merahku.
Aku merenungkan
sesuatu,
Sesuatu yang luar
biasa dalam proses pencarianku,
Pencarian tentang
masa depanku,
Entah apa yang ada
dalam benakku
Aku menemukannya pada
proses keberhasilanku
Namun ketika ku
membanggakannya
Ternyata Tuhan
mengutus kabut hitam,
Membuatku tak tau
ingin berbuat apa
Aku ingin
meninggalkan mimpi itu namun aku tak rela
Aku ingin melanjutkan
mimpi itu namun tak ada gunanya
Aku sebenarnya tau
bahwa Tuhan mengajarkanku untuk diam
Mengajarkanku untuk
berfikir sejenak
Berfikir tentang
sebuah kematangan seorang yang berada dalam proses pendewasaan
Aku sebenarnya ingin
mewujudkan mimpi itu,
Aku ingin mengapai
mimpi itu,
Aku tau bahwa itu
adalah mimpi yang sempurna
Dan patut untuk di
wujudkan
Namun lagi-lagi
tentang kabut hitam itu
Aku tak bisa
meninggalkan bungan mawar putih yang sedang menghiasi taman kehidupanku
Aku tak berani
menggantinya dengan mawar merah yang baru akan menjadi mimpi baruku
Tapi apakah Tuhan
menghadirkannya dalam kehidupanku
Sebagai salah satu
jawaban dari do’a-do’aku tentang
Kehidupan yang
sebetulnya sempurna ?
Atau Tuhan
menghadirkannya, sebagai penguji untuk mawar putih kesayanganku ?
Entah aku tak bisa
membaca keadaan ini
Aku tak bisa berfikir
dan mencari celah dari keadaan ini
Biarkan aku sendiri
Biarkan aku tetap
menjadi air yang terus mengalir
Dan mengairi baik itu
mawar merah maupun mawar putih
Karena aku tercipta
untuk mengairinya
Biarkan aku terus
menjadi mentari
Mentari yang selalu
memberi kehidupan
Kehidupan untuk mawar
merah dan putih
Dalam taman
kehidupanku.
0 komentar:
Posting Komentar