Entah ini malam keberapa aku terbangun,
Terbangun karena memilih untuk memikirkan sang mawar merah
yang tempo hari sering kuceritakan,
Tak banyak perkembangan,
Abu masih tercipta dari api,
Air masih mengalir,
Dan pastinya malam masih gelap
Kata MASIH merupakan wujud konsistensi
Dan ternyata otak dan pikiranku masih konsisten
Konsisten memikirkan, Konsisten mengkonkretkan pemikiran
itu,
Membaca bahasa tubuh yang mawar itu berikan
Aku hanya memfungsikan mata itu hanya melihat,
Melihat apa yang ditunjukkan,
Tanpa harus mencari apa yang tak Nampak,
Memfungsikan hati untuk selalu berharap,
Berharap keadilan cinta dalam setiap perjalanan kehidupan
ini
Memfungsikan tangan untuk menutup semuanya,
Menutup kepalsuan, kepalsuan yang tak Nampak oleh kasat mata
Intinya aku mengangumimu dengan terbatasan, dengan keadaan
yang tak layak
0 komentar:
Posting Komentar