Kehidupan ini terus berjalan, hari demi hari terus berlalu
mengukir banyak kisah dan sejarah itupun terus terukir.
Tak terasa bulan agustus ini adalah bulan ketiga saya harus
melepas masa-masa keemasan, masa-masa penuh dengan suka dan duka. Dan masa itu
biasanya disebut dengan masa putih abu-abu.
Putih yang menandakan sebagai warna yang suci, tak ternoda, atau
bahkan diasumsikan sebagai warna yang tidak tau apa-apa. Kemudian putih
dipadukan dengan abu-abu yang biasanya diibaratkan sebagai yang masih
kabur-kabur dan tidak jelas.
Ketidak jelasan dari abu-abu kami rasakan ketika harus berada
dalam sebuah pilihan, pilihan tentang masa depan yang abu-abu. Saat itu ada
orang yang menyarankan pilihan satu, dan orang lain menyarankan pilihan kedua,
tapi anehnya orang yang seharusnya berpendapat dan ikut dalam memilih, yakni
orang tua, lebih memilih diam dan menyerahkan semuanya kepada anaknya, dengan
kata-kata yang simple “ yang mau kuliah bukan saya, kamu yang jalani ! “, dan
kata-kata itu berbekas dalam pikiranku.
Setelah perkataan itu, kuputuskan untuk merenung tentang
cita-cita dan keinginanku. Saya memulainya dari masa anak-anak. Saat itu,
pekerjaan atau profesi yang keren dimata sebayaku adalah polisi dan dokter,
dengan beberapa pemikiran sebagai seorang bocah yang kurang lebih masih berusia
9 tahun, memutuskan untuk bercita-cita sebagai dokter. Cita-cita sebagai dokter
ternyata hanya sampai di masa putih merah.
Memasuki masa putih biru, saya sudah mulai bisa berfikir logis
tentang masa depan saya, ruang lingkup pemikiran saya saat itu juga sudah bisa
lepas dari pemikiran bahwa orang pintar harus orang yang pandai dibidang sains.
Hal kedua yang membuatku berpindah cita-cita adalah aku tak ingin mengikuti
arus, kebanyakan anak-anak mencita-citakan hal yang sama dengan saya
cita-citakan yakni dokter, dan saya harus berbeda dengan mereka, dalam
pikiranku.
Saat itu kuputuskan untuk bercita-cita sebagai seorang wartawan,
cita-cita itu bertahan sampai putih abu-abu.
Hasilnya cita-cita itu mengundang banyak argument dari beberapa pihak
yang menurutku masuk akan mengapa mereka berpendapat. Tapi pilihanku tetap
kekeh.
Karena cita-cita itulah sehingga saat ini kuputuskan untuk
memilih jurusan yang akan selaras dengan cita-citaku yakni jurusan Komunikasi.
Mudah-mudahan pilihan ini tidak seabu-abu seragamku beberapa bulan yang lalu,
dan mudah-mudahan berending dengan baik, dan semuanya indah.
0 komentar:
Posting Komentar