James Derulo's

Portfolio

Pilihan

Leave a Comment


Kehidupan ini terus berjalan, hari demi hari terus berlalu mengukir banyak kisah dan sejarah itupun terus terukir. 

Tak terasa bulan agustus ini adalah bulan ketiga saya harus melepas masa-masa keemasan, masa-masa penuh dengan suka dan duka. Dan masa itu biasanya disebut dengan masa putih abu-abu.

Putih yang menandakan sebagai warna yang suci, tak ternoda, atau bahkan diasumsikan sebagai warna yang tidak tau apa-apa. Kemudian putih dipadukan dengan abu-abu yang biasanya diibaratkan sebagai yang masih kabur-kabur dan tidak jelas.
Ketidak jelasan dari abu-abu kami rasakan ketika harus berada dalam sebuah pilihan, pilihan tentang masa depan yang abu-abu. Saat itu ada orang yang menyarankan pilihan satu, dan orang lain menyarankan pilihan kedua, tapi anehnya orang yang seharusnya berpendapat dan ikut dalam memilih, yakni orang tua, lebih memilih diam dan menyerahkan semuanya kepada anaknya, dengan kata-kata yang simple “ yang mau kuliah bukan saya, kamu yang jalani ! “, dan kata-kata itu berbekas dalam pikiranku.

Setelah perkataan itu, kuputuskan untuk merenung tentang cita-cita dan keinginanku. Saya memulainya dari masa anak-anak. Saat itu, pekerjaan atau profesi yang keren dimata sebayaku adalah polisi dan dokter, dengan beberapa pemikiran sebagai seorang bocah yang kurang lebih masih berusia 9 tahun, memutuskan untuk bercita-cita sebagai dokter. Cita-cita sebagai dokter ternyata hanya sampai di masa putih merah.

Memasuki masa putih biru, saya sudah mulai bisa berfikir logis tentang masa depan saya, ruang lingkup pemikiran saya saat itu juga sudah bisa lepas dari pemikiran bahwa orang pintar harus orang yang pandai dibidang sains. Hal kedua yang membuatku berpindah cita-cita adalah aku tak ingin mengikuti arus, kebanyakan anak-anak mencita-citakan hal yang sama dengan saya cita-citakan yakni dokter, dan saya harus berbeda dengan mereka, dalam pikiranku.

Saat itu kuputuskan untuk bercita-cita sebagai seorang wartawan, cita-cita itu bertahan sampai putih abu-abu.  Hasilnya cita-cita itu mengundang banyak argument dari beberapa pihak yang menurutku masuk akan mengapa mereka berpendapat. Tapi pilihanku tetap kekeh.

Karena cita-cita itulah sehingga saat ini kuputuskan untuk memilih jurusan yang akan selaras dengan cita-citaku yakni jurusan Komunikasi. Mudah-mudahan pilihan ini tidak seabu-abu seragamku beberapa bulan yang lalu, dan mudah-mudahan berending dengan baik, dan semuanya indah.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar