BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Boyolali merupakan sebuah kabupaten yang berdekatan
dengan Kota Surakarta dan Kota Semarang yang berada di Provinsi Jawa tengah,
dengan keadaan geografis yang berada pada dataran tinggi dan dataran rendah.
Karena posisi Kabupaten Boyolali terletak diantara Kota Solo yakni kota
pariwisata dan Kabupaten Semarang yang menjadi kota indutri, sehingga Kabupaten
Boyolali dapat menjadi daerah transit yang dapat menunjang perekonomian
masyarakatnya.
Di daerah ini terdapat salah satu desa yang menjadi
penunjang perekonomian daerah yakni Desa Tumang. Desa ini merupakan salah satu
desa wisata dan desa industri rumahan (home
industry) yang mengkhususkan diri dalam industri kerajinan tembaga. Desa
Tumang terletak di lereng Gunung Merapi sekitar 16 KM arah barat dari Kota
Boyolali. Berdasarkan sejarahnya, masyarakat Desa Tumang dikenal ahli dalam
membuat parang dan pedang. Awalnya tembaga masuk ke desa ini dibawa dari
keraton Surakarta melalui prajuritnya yang ahli dalam membuat kerajinan
tembaga. Seiring dengan berjalannya waktu masyarakat desa ini mulai berangsur
mendalami pekerjaan tersebut.
Saat ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, masyarakat desa menjadi lebih kreatif dalam membuat kerajinan
tembaga. Yang dahulu hanya berpusat pada pembuatan barang-barang rumah tangga,
kini berkembang dan meluas ke bidang properti, interior dan eksterior. Walaupun
tidak sepenuhnya penduduk desa Tumang berprofesi sebagai pengrajin tembaga, namun
karena masa depan kerajinan tembaga yang menjanjikan, maka dari itu, sekarang
ini masyarakat Desa Tumang mayoritas berprofesi sebagai pengrajin tembaga. Inovasi
demi inovasi diciptakan oleh masyarakat setempat sehingga kerajinan tembaga
kini mampu mengasilkan penghasilan yang lumayan besar bagi pengusaha, pengerajin
bahkan bagi pemerintah desa setempat.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik
untuk mengkaji dan mengeteahui lebih dalam tentang “Tembaga dan Potret Kesejahteraan Masyarakat Desa Tumang.”
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana
hubungan antara kerajinan tembaga dengan kesejahteraan masyarakat Desa Tumang?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan diadakan penelitian ini adalah mengetahui
hubungan antara kerajinan tembaga dengan kesejahteraan masyarakat Desa Tumang.
Harapannya, penelitian ini dapat mendukung pemerintah untuk ikut serta
mengembangkan dan melakukan pendampingan bagi usaha ekonomi kerajinan tembaga
di Desa Tumang.
1.4 Tinjauan Pustaka
a.
Tembaga
Tembaga merupakan salah satu logam non-ferrous yang paling penting dan
banyak dipakai mulai dari industri sederhana sampai industri berteknologi
tinggi. Hal ini digunakan baik murni atau paduan dengan logam lain. Secara
fisika tembaga berwarna coklat kemerahan, lunak sehingga mudah di tempa, dapat
dibentuk dan merupakan konduktor panas dan pengahantar listrik yang baik
dengan. Tembaga adalah bahan penting dan sangat diperlukan dalam banyak
aplikasi karena sifat fisik dan mekanis, termasuk konduktivitas listrik dan
panas luar biasa tinggi, ketahanan terhadap korosi yang tinggi, sehingga
daktilitas kemudahan pengolahan, dan mampu las yang baik (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31045/4/Chapter
%20II.pdf ).
Tembaga akhirnya bisa dimanfaatkan untuk industri kerajinan, karena
sifatnya yang bisa dilebur sesuai bentuk atau model yang ditentukan. Pengerajin
tembaga akan selalu melihat permintaan pasar berdasarkan model dan kebutuhan
konsumen.
b.
Peningkatan Kesejahteraan
Menurut Undang-undang No 11 Tahun 2009,
kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual,
dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga
dapat melaksanakan fungsi sosialnya (http://perencanaankota.blogspot.com/2012/01/beberapa-konsep-tentang-kesejahteraan.html).
Kesejahteraan identik dengan tingkat ekonomi yang mampu mencukupi kebutuhan
setiap individu di dalam keluarga. Mereka yang tidak sampai pada taraf tersebut
kemudian diindikasikan dengan kategori miskin. Akses untuk mencapai
kesejahteraan sangat ditentukan oleh upah (penghasilan) dari jenis pekerjaan
yang dilakukannya. Pengerajin tembaga relatif mendapatkan penghasilan cukup,
dibandingkan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya non formal, seperti petani,
buruh tani, dan sebagainya.
1.5 Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah jika pengerajin
Desa Tumang dapat memproduksi lebih banyak kerajinan tembaga yang berprospektif
jual tinggi, maka kesejahteraan mereka lebih maju.
1.6 Metode
a. Lokasi
kegiatan dan materi penelitian
Desa
Tumang secara administratif terletak di Desa Tumang kecamatan Cepogo kabupaten
Boyolali. Secara geografis desa ini berada di kaki Gunung Merbabu sebelah
Timur, 13 km dari kota Boyolali ke arah Barat dan 40 km dari Kota Solo.
Mayoritas penduduk Desa Tumang bermata pencaharian di sektor industri dan
pertanian. (http://klaster-umkm.blogspot.com/2011/01/klaster-kerajinan-logam.html).
b. Metode
penelitian : Metode penelitiannya
menggunakan kualitatif deskriptif dengan yang melihat
aspek-aspek kehidupan pengerajin tembaga dan dampaknya terhadap peningkatan
kesejahteraan dilihat secara mendalam.
c. Metode
pengumpulan data : Wawancara dengan menjumpai 11 orang yang terdiri dari kepala
desa, pengusaha, dan pengerajin tembaga. Observasi yang dilakukan adalah dengan
mengamati gejala sosial yang terjadi di Desa Tumang.
d. Metode
analisis data : Deskriptif dengan menarasikan data yang ditemukan melalui
metode wawancara dan observasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah dan Monografi Desa Tumang
Kabupaten Boyolali
sebagai salah satu Kabupaten Jawa Tengah yang memiliki potensi pengembangan
klaster industri dengan bermacam-macam produknya. Salah satu industri
unggulannya adalah industri kerajinan tembaga, tepatnya di Desa Tumang. Industrialisasi
yang berjalan di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo tumbuh dari inisiatif lokal yang
berkembang dan mempunyai keunikan sendiri. Sejarah terbentuknya usaha kerajinan
tembaga bermula dari jaman kerajaan mataram, kurang lebih pada pertengahan abad
ke-18. Usaha kerajinan ini di mulai dari usaha rumah tangga dimana keterampilan
diperoleh dari seorang yang bernama Empu Supondrio. Namun pendapat lain dikemukakan
oleh kepala Desa yang mengatakan bahwa kerajina
tembaga berasal dari keraton Surakarta yang dibawah oleh prajuritnya.
Pada mulanya masyarakat
Desa Tumang hanya memproduksi jenis peralatan rumah tangga misalnya: dandang,
cerek,
kuali, dll. Namun pada perkembangannya, mulai tahun 1980 muncul inovasi-inovasi
baru sebagian pengrajin mencoba merintis kerajinan seni ukir tembaga, yang
jenis produknya tidak lagi berupa peralatan rumah tangga namun berupa
perlengkapan dan aksesoris perumahan, misalnya pot bunga, guci, lampu duduk,
lampu gantung, kaligrafi, hiasan dinding dll. Sedangkan kerajinan tradisonal
berupa alat-alat rumah tangga yang menggunakan bahan baku tembaga akhirnya
kalah bersaing dengan produk sejenis yang berbahan baku almunium, maka sekitar
tahun 1990 sebagian pengrajin peralatan rumah tangga yang menggunakan bahan
baku dari tembaga mencoba memproduksi dengan bahan baku almunium, dengan
pertimbangan supaya mampu bersaing dengan produksi dari luar,
Keahlian membuat kerajinan alat-alat rumah tangga ynag dulunya
berbahan baku besi rongsok berkembang turun temurun dari generasi ke generasi.
Keahlian ini semakin bervariasi seiring dengan perkembangan teknologi
pengolahan, bahan baku, dan permintaan konsumen namun perkembangan industri
kerajinan di Desa Tumang masih mengalami bergabagai kendala yang membutuhkan
peran serta pemerintah secara aktif. Adapun kendala-kendala yang dihadapi
antara lain : keterbatasan dalam mengakses peluang pasar, rendahnya etos kerja
pegawai, tingginya bahan baku dan keterbatasan modal yang dimiliki. Untuk
mengsiasati hal tersebut maka BMT (Baitul Mal wa Tamwil) dirintis dengan semangat
awal untuk mengentaskan masyarakat tumang dari gerakan rentenir, dimana kondisi
masyarakat Tumang yang sebagian besar mempunyai usaha di sektor industri
kerajian logam dan perdagangan,dengan kemampuan modal yang terbatas dan secara
umum belum bankable, maka rentenir yang menjadi alternatif terakhir dalam usaha
memnuhi kebutuhan modal usaha .
Keberadaan BMT Tumang merupakan jawaban atas harapan masyarakat
desa tumang khususnya, yang saat ini tentunya tidak sekedar dapat memberikan
pelayanan dan manfaat bagi masyarakat Tumang khususnya, namun bisa berperan
dalam memberikan nilai tambah pada masyarakat luas. Secara ekonomi, masyarakat
Tumang sangat terbantu dalam pemenuhan kecukupan modal untuk kerajinan
tembaganya.
2.2
Siasat Mengatasi Bahan Baku
Desa Tumang adalah desa yang mayoritas
penduduknya sebagai pengerajin tembaga yang telah ada sejak abad ke-18. Kerajinan
ini sudah medunia dan menghasilkan pendapatan yang lumayan banyak untuk
pengusaha dan para pekerja di tempat ini, tetapi sebenarnya sumber bahan baku
yang didapat bukan berasal dari Desa Tumang sendiri, namun berasal dari daerah
lain baik itu lokal maupun mancanegara.
Biasanya bahan baku lokal didapat dari
daerah Surabaya, Surakarta, dan Klaten dengan beberapa pertimbangan diantaranya
karena harga tembaga di daerah tersebut murah sehingga dapat dijangkau dengan
modal yang lumayan kecil dan juga ongkos pengirimannya lebih murah dibandingkan
di luar negeri, pertimbangan berikutnya adalah bahan lokal hanya digunakan
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak diproduksi secara masal.
Namun kualitas yang ditawarkan oleh
tembaga dalam negeri kurang bagus karena tembaga yang dihasilkan bukan
merupakan tembaga asli, namun tembaga bekas atau yang sudah menjadi limbah
dikelolah menjadi tembaga baru. Untuk mengsiasati hal tersebut para pengerajin
mengimport dari luar negeri, seperti dari Turki, India, Jepang, Korea, China,
dan Italia. Negara-negara tersebut dijadikan sebagai negara pengesport karena
kualitas tembaganya yang baik, dan merupakan tembaga asli yang belum perna
dikelolah sebelumnya, kemudian pertimbangan berikutnya negara-negara tersebut
memberikan harga yang relatif murah ketimbang negara lain dengan kualitas yang
sama sehingga para pengusaha tertarik untuk mengimport dari negara-negara
tersebut, pertimbangan berikutnya mengimport barang dari luar negeri sebagai
salah satu siasat untuk menjalin kerja sama dengan negara lain sehingga dalam
proses penjualannya lebih mudah karena negara sudah mengetahui kualitas yang
ditawarkan oleh produk dalam negeri yang asalnya dari negara itu sendiri.
2.3
Para Pengerajin Tembaga
Di desa Tumang, Kacamatan Cepogo, Kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah berpenduduk kurang lebih 7000 jiwa. Mayoritas penduduk Desa
Tumang adalah pengrajin tembaga, 40% pengrajin tembaga, 20% adalah petani, 10%
adalah pedagang, 20% jual barang bekas, dan 10% lainnya adalah pekerjaan
lain. Para pengrajin di Desa Tumang
adalah penduduk asli daerah itu sendiri.
Jumlah penduduk yang berprofesi sebagai
seorang petani berjumlah 20 % menempatkan pekerjaan ini sebagai pekerjaan kedua
terbesar di Desa Tumang, dan bagi 20 % masyarakat Desa ini sudah menjadikan
petani sebagai pekerjaan tetapnya. Selang antara menanam dan memanen hasil
pertanian bagi petani membutuhkan waktu jeda yang cukup lama. Hal tersebut
membuat para penduduk yang berprofesi sebagai seorang petani mencari pekerjaan
sampingan untuk menambah penghasilan untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.
Salah satu pekerjaan sampingan yang banyak dipilih adalah menjadi pengerajin
tembaga, namun pekerjaan ini hanya sebagai pekerjaan harian bukan sebagai
pekerjaan tetap.
Penduduk yang berprofesi sebagai
pengerajin tembaga rata-rata berumur 18 tahun hingga 45 tahun. Pengrajin Desa
Tumang ada yang berpendidikan sampai sekolah dasar, ada juga yang berpendidikan
hingga selesai, namun yang masih mendominasi adalah yang berpendidikan rendah.
Mereka lebih memilih kerja untuk menghidupi keluarga mereka dibandingkan
pendidikan mereka.
Keahlian atau skill yang mereka punya diperoleh dari beberapa cara, ada yang
diperoleh dari cara training di luar
negeri, ada yang lulusan SMK/SMA, ada yang turun temurun dari nenek moyang
mereka, ada juga yang belajar dari orang lain. Para pengrajin Desa Tumang
rata-rata bekerja 3 hingga 5 tahun.
Pengrajin Desa Tumang sangat terampil
membuat hiasan tembaga. Dilihat dari karya yang mereka hasilkan sangat bagus
dan diminati oleh banyak orang. Bukan hanya di dalam negeri saja, para peminat
juga ada di luar negeri. Mereka bisa menghasilkan suatu karya hanya dalam waktu
sehari. Mereka sangat menekuni apa yang mereka kerjakan.
Kehidupan para pengrajin Desa Tumang
juga bisa dibilang sejahtera. Dilihat dari penghasilan para pengrajin bisa
menghidupi keluarga mereka masing-masing, mereka sangat menikmati apa yang
mereka kerjakan.
Para pengrajin Desa Tumang menghasilkan
karyanya menggunakan bahan yang dibeli dari daerah itu sendiri. Ada juga yang
diperoleh dari luar kota. Seperti Klaten, Surakarta, Surabaya, dll.
Para pengrajin menghasilkan karya dengan
beberapa tahap. Tahap pertama plat lembarannya di potong, setelah dipotong
platnya dibakar, setelah dibakar dipahat dengan memakai pukul besi dan pukul
kayu.
Permasalahan yang paling mendasar saat
ini yang dihadapi oleh desa ini untuk mengembangkan lagi usaha idustri
pengerajin tembaga adalah kurangnya tenaga kerja yang ada di desa tersebut. Hal
ini dipengaruhi karena pekerjaan ini hanyalah pekerjaan yang menjadi sampingan
atau menjadi pekerjaan cadangan setelah gagal memperoleh pekerjaan yang lebih
baik dibandingakan dengan pekerjaan tersebut.
2.4
Hubungan Produksi Tembaga dengan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Di Indonesia sendiri, mmemiliki tempat yang menjadi
pusat pembuatan kerajinan tembaga, yakni di Desa Tumang. Di tempat ini 40%
penduduknya berprofesi sebagai seorang pengerajin. Dari prosentase pekerjaan
mayoritasnya itu, secara otomatis pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di desa
ini salah satunya di pengaruhi oleh hasil dari kerajinan tembaga ini.
Kebutuhan material sangat mempengaruhi kesejahteraan
masyarakat di sebuah daerah, dari beberapa informasi yang ditemukan dilapangan
mengatakan bahwa para pengusaha pengerajin tembaga ini, dapat menghasilkan
omzet 1-3 Milyar tergantung dengan order para pembeli sehingga para pengusaha
dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari. 1-3 Milyar pendapatan pengusaha itu
tidak secara bersih diterima secara langsung dan menjadi laba dalam usahanya
namun dibagi-bagi untuk biaya produksi, menanggung gaji karyawan, dan juga di
masukkan dalam badan maal di desa tersebut. Badan maal tersebut difungsikan
untuk membiayai kegiatan sosial, seperti membantu pendidikan masyarakat yang
kekurangan biasa untuk berobat, bersekolah, dan beberapa kegiatan sosial
lainnya.
Ketika pengusaha dapat memperoleh omzet hingga 1-3
Milyar, para pengerajin memperoleh gaji hanya berkisar antara Rp. 25.000,-/hari
hingga Rp. 50.000,-/hari. Namun gaji tersebut merupakan gaji bersih diluar
konsumsi para pengerajin. Angka ini dianggap oleh Kepala Desa sudah dapat
mengsejahterakan masyarakat di desa tersebut. Namun pendapat yang berbeda
terjadi ketika ditanyakan kepada para pengerajin yang masih menganggap bahwa gaji sebesar itu,
dengan satu orang istri, empat orang anak, dan enam orang cucu hanya
dicukup-cukupkan saja, harga beras saat ini di sekitaran Desa tersebut sebesar
Rp.7.500,00/hari.
Keluarga tersebut menghabiskan sekiar 1-2 kg beras
perhari. Belum lagi kebutuhan akan sekolah yang menghabiskan Rp.5.000,00/anak.
Belum juga kebutuhan rumah tangga seperti deterjen, sabun, atau kebutuhan
lainnya. Berarti, dapat disimpulkan bahwa uang Rp.50.000,00 benar-benar hanya
dicukup-cukupkan. Entah biaya sekolah yang dikurangi, atau kebutuhan yang
lainnya.
2.5
Bertahan di tengah Industrialisasi
Pada era sekarang, masyarakat mulai melirik pekerjaan
dalam bidang Industri. Mulai dari
Industri berskala kecil sampai berskala besar. Industri ini meliput dari negara
berkembang hingga negara maju. Mulai dari industri makanan, pakaian, properti
dan lain-lain.
Dengan adanya asas perdagangan, hal ini dapat
memungkinkan persaingan yang sangat ketat baik negara maju maupun negara
berkembang. Seperti halnya dalam bidang tembaga ini. Banyak sekali negara yang
mulai melirik industri tembaga pada negara berkembang karena harga dan
kualitasnya lebih baik. Contohnya adalah Indonesia, India, cina dan negara
berkembang lainnya. Dengan ini persaingan di anatara negara berkembang pun
semakin ketat. Persaingan ini dimulai dari persaingan harga, persaingan
kualitas, sampai persaingan bahan pokok.
Di Indonesia,
tepatnya di Desa Tumang merupakan salah satu sumber produksi tembaga. Hasil
produksi ini tidak kalah mutunya dengan hasil produksi negara berkembang
lainnya, walaupun harga yang relatif lebih mahal karena bahan baku tembaganya
sebagian besar diperolah dari luar negeri. Hal ini jauh berbeda dengan negara
India yang memang memiliki bahan baku sendiri, sehingga biaya barang yang
dihasilkan dapat ditekan. Untuk mengsiasati hal tersebut para pengusaha di
Indonesia, menurunkan harga jasa dan harga produksi. Sehingga Indonesia masih
bisa bersaing di dunia industrilisasi global.
Persaingan tidak hanya terjadi pada tingkat industri
global, namun industri nasional pun ikut bersaing antara tempat yang satu
dengan tempat lainnya. Sehingga antar daerah saling memperebutkan order baik
dari dalam negeri hingga luar negeri.
Sama halnya
dengan persoalan yang terjadi di Desa Tumang. Di Desa Tumang ini banyak
kumpulan industri-industri kecil, sehingga berbagai macam persoalan pun terjadi
di sini. Permasalah pembeli misalnya yang kurang merata di antara
pengusaha-pengusaha di Desa ini, kemudian permasalah tenaga kerja yang diambil
oleh perusahan lainnya juga perna terjadi di daerah ini. Namun persoalan ini
tidak dibesar-besarkan bahkan cenderung ditutup-tutupi dari khalayak ramai. Hal
ini agar para pembeli kerajinan-kerajinan yang berasal dari daerah ini tetap
setia untuk membeli tanpa harus terkontamidasi dengan konflik yang terjadi
diantara para pengusaha lokal.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Kesejahteraan
masyarakat Desa Tumang dipengaruhi oleh pengerajin tembaga, karena pekerjaan
tersebut merupakan pekerjaan yang mendominasi dengan presentase 40 %
dibandingkan dengan pekerjaan lainnya, namun yang mengatakan bahwa masyarakat
Desa Tumang sejahtera hanya kepala Desa Tumang, sedangkan para pengerajin
tembaga masih menganggap bahwa kesejahteraan mereka masih dalam tingkat yang
rendah karena hanya dicukup-cukupkan untuk menghidupi keluarganya.
2. Para
pengerajin yang masih memperoleh gaji
sebesar Rp. 30.000,-/hari menganggap bahwa gaji sebesar itu, dengan satu orang
istri, empat orang anak, dan enam orang cucu hanya dicukup-cukupkan saja, harga
beras saat ini di sekitaran desa tersebut sebesar Rp.7.500,00/hari. Keluarga
tersebut menghabiskan sekiar 1-2 kg beras perhari. Belum lagi kebutuhan akan
sekolah yang menghabiskan Rp.5000,00/anak. Belum lagi kebutuhan rumah tangga
seperti; deterjen, sabun, atau kebutuhan lainnya. Berarti, dapat disimpulkan
bahwa uang Rp.50.000,00 benar-benar hanya dicukup-cukupkan. Entah biaya sekolah
yang dikurangi, atau kebutuhan yang lainnya.
3.2 Saran
1.
Memperbaiki sistem marketing dengan cara
menjual hasil barang kerajinannnya langsung di industri global tanpa adanya
perantara;
2.
Memberikan pelatihan lebih lanjut kepada
para pengrajin muda agar kemampuan mereka bertambah dan dapat meningkatkan
kualitas barang;
3.
Perlu adanya campur tangan pemerintah
untuk bisa mengupayakan pembuatan bahan baku (tembaga) yang berkualitas baik
dan setara dengan produk-produk import.
nggak ada bentuk file documentnya kak?
BalasHapus